Peninggalan Arca Megalitik Pasemah

Kebudayaan megalitik yang terdapat di kepulauan Nusantara sendiri kemungkinan besar berasal dari daratan Asia. Sebuah bentuk dari karya seni adalah karya manusia yang memuat penggambaran imajiner melalui bentuk-bentuk yang terancang baik, dengan menggunakan teknik tertentu yang di dapat melalui upaya mencarian yang disengaja. Dengan batasan ini maka keindahan menjadi unsur yang relatif di dalam karya-karya seni yang dibicarakan.

Peninggalan Arca Megalitik Pasemah

Seni arca Pasemah yang berbentuk manusia dan binatang tersebut erat kaitannya dengan seni sebagai mimesis (tiruan atau salinan), seperti yang dijelaskan Aristoteles dalam Tragic Art, yaitu sifat suka meniru yang ada dalam diri manusia adalah sesuatu yang alamiah, dan mengenali objek ciptaan manusia sebagai suatu benda tiruan bagi manusia dapat memunculkan kesenangan tersendiri.

Peninggalan arca megalitik di daerah Pasemah di Sumatera Selatan mempunyai ciri khas yang berbeda jika diperbandingkan dengan bentuk seni arca megalitik di kepulauan Nusantara. Ciri khas yang sangat menonjol dari seni arca megalitik di pasemah adalah arca-arca megalitik tersebut mempunyai bentuk yang hidup dengan penggambaran arca yang seolah-olah sedang melakukan gerakan yang umum terjadi pada hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan sehingga seni megalitik di pasemah menampakkan gerakan yang sangat dinamis, meskipun di lain pihak juga dijumpai seni arca seperti menhir yang statis.

Arca megalitik di Pasemah termasuk dalam Death Monument karena sekarang telah ditinggalkan fungsi dan kegunaannya oleh masyarakat pendukungnya dalam hal ini masyarakat megalitik dalam periode prasejarah. Tradisi megalitik sendiri diilhami oleh bentuk batu yang dibangun oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani dalam bentuk batu besar ataupun kecil. Arca-arca megalitik Pasemah menggambarkan bentuk-bentuk binatang atau manusia yang kemungkinan besar erat kaitannya dengan kemampuan masyarakat megalitik Pasemah dalam menjinakkan binatang liar seperti gajah, kerbau, ataupun juga harimau.

Arca batu gajah membuktikan bahwa masyarakat megalitik Pasemah telah dapat menjinakkan gajah selain itu juga terdapat arca batu Belumai dimana seorang tokoh manusia mengendarai kerbau. Pada bagian kaki tokoh manusia tersebut dari pahatannya digambarkan gelang kaki yang kemungkinan besar dari logam. Selain kedua contoh yang telah dijelaskan tersebut, terdapat juga arca ular dari situs megalitik Tanjung Arau dimana dipahatkan ular yang sedang berkelahi dengan tokoh manusia. Arca-arca yang berbentuk binatang juga ditemukan di situs megalit Tinggihari. Di situs tersebut dipahatkan arca batu yang berbentuk babi hutan. Seni pengarcaan binatang yang ada pada arca megalitik Pasemah patut diduga, bahwa binatang-binatang buas tersebut mengancam kehidupan mereka sehingga mereka memahatkan binatang tersebut sebagai simbol agar binatang tersebut tidak mengancam hidup masyarakat megalitik Pasemah.

Arca Megalitik Pasemah Ditinjau dari Arkeologi Ekologi

Pembuatan arca-arca megalitik di daerah Pasemah kemungkinan besar dibuat untuk tujuan tertentu yang pada dasarnya jika menilik pada pengertian megalitik maka arca-arca itu didirikan untuk tujuan yang berkaitan erat dengan kepentingan masyarakat megalitik untuk memenuhi kebutuhan religius mereka. Kebutuhan mengenai religius di sini erat kaitannya dengan usaha manusia yang mengacu pada kepercayaan mengenai kekuatan kepada yang berkuasa atas diri mereka dan hal ini erat kaitannya dengan kekuasaan para leluhur mereka yang telah pergi mendahului mereka. Kepercayaan memuja arwah nenek moyang atau animisme ini kemudian diwujudkan dalam bentuk arca-arca sebagai suatu perlambangan akan diri leluhur mereka yang telah pergi ke alam arwah.

Pada beberapa tempat di kepulauan Nusantara, pengarcaan terhadap leluhur untuk keperluan religius dipahatkan pada batu dalam bentuk menhir yang berbentuk statis. Arca megalitik dari Pasemah, diarcakan begitu dinamis atau hidup dengan gerakan yang seolah-olah mencerminkan kekuatan diri dari seorang tokoh. Arca yang dinamis tersebut adalah suatu simbol atau identitas yang tidak akan dijumpai pada arca menhir yang bersifat statis. Arca-arca yang dipahatkan pada batu di Pasemah, yang berbentuk dinamis, dan sudah barang tentu hal tersebut mencerminkan pola pikir yang dinamis dari pembuat arca dan masyarakat pendukung arca tersebut.

Sebelum lebih jauh membahas arca-arca dalam bentuk dinamis, terdapat pula arca-arca di Pasemah yang mempunyai bentuk yang statis yaitu menhir. Menhir di Pasemah dapat dijumpai di Muara Dua, arca yang berbentuk menhir banyak digunakan untuk keperluan penguburan dan pada bagian bawah menhir tidak diberikan alas kaki karena menhir biasanya hanya ditancapkan di tanah. Menhir di Muara Dua berbentuk seperti tonggak bulat dengan pahatan bagian tubuh manusia secara sederhana.

Arca menhir erat kaitannya dengan penggambaran nenek moyang yang dikuburkan di tempat menhir tersebut didirikan. Menhir di Pasemah kemungkinan besar berusia lebih tua jika dibandingkan dengan arca-arca megalitik yang berbentuk dinamis. Bentuk yang sederhana pada menhir menggambarkan jika masyarakat pendukung seni pahat tersebut masih sangat sederhana dan belum mendapatkan pengaruh luar yang masuk yang turut pula memberikan warna dalam seni arca megalitik di Pasemah dengan bentuk pengarcaan nenek moyang yang lebih dinamis.

Penggambaran arca megalitik di Pasemah berbentuk tiga dimensi dengan pahatan yang berbentuk antropomormik (berbentuk manusia), menggambarkan hewan dan berbentuk pahatan manusia bersama-sama dengan hewan, selain pahatan yang berbentuk tiga dimensi juga dapat dijumpai pahatan yang berbentuk dua dimensi atau relief. Arca yang dapat kita jumpai di Pasemah adalah bentuk dari nenek moyang masyarakat megalitik Pasemah dengan tujuan untuk mendekatkan diri dengan nenek moyang dan supaya nenek moyang dapat menjaga mereka.

Arca yang merupakan perwujudan dari seorang tokoh masyarakat yang dihormati tersebut kemudian disembah dan dipuja oleh masyarakat megalitik untuk memperoleh berkah dan keselamatan, oleh karena itu arca-arca megalitik biasa disebut arca nenek moyang atau arca leluhur, atau arca pemujaan. Arca nenek moyang dipercaya oleh masyarakat pendukungnya mempunyai kekuatan gaib dan dikeramatkan. Oleh adanya anggapan yang seperti hal tersebut maka arca nenek moyang tidak jarang digambarkan dengan mata yang besar dan melotot, mulut yang lebar dan tebal, hidung yang pesek, gigi yang besar dan runcing, telinga yang besar dan kemaluan yang berdiri tegak, badan yang tambun, ataupun juga wanita dengan payudara yang besar, dan lain-lain.

Arca megalitik yang terdapat di Pasemah dipahatkan dalam batu yang besar. Arca megalitik Pasemah dipahatkan dalam keadaan tubuh yang lengkap akan tetapi ada juga yang mengendarai binatang. Hal menarik dari arca Pasemah adalah arca-arca ini memakai perhiasan-perhiasan seperti kalung manik-manik, gelang, berselibkan belati tipe Dongson, memikul nekara dan ada pula yang menggendong anak kecil.

Kemunculan pahatan-pahatan dengan disertai perhiasan-perhiasan ataupun juga benda perunggu yang dipahatkan bersama tokoh manusia telah memperlihatkan bahwa tingkat peradaban manusia megalitik Pasemah sangat tinggi karena mereka telah mengenal alat perunggu dan kemungkinan besar mereka telah mengenal tata cara perdagangan karena tipe nekara yang terdapat pada baru gajah berasal dari Dongson. Hal tersebut membuktikan bahwa budaya Pasemah telah melakukan hubungan dengan kebudayaan luar atau karena adanya migrasi dari daratan Asia. Dengan bentuk pahatan-pahatan perhiasan dan alat perunggu tersebut dapat dilihat bentuk kehidupan duniawi yang lebih ditonjolkan dan tentunya hal tersebut bertolakbelakang dengan kebutuhan akan kehidupan gaib.

Hal menarik dari arca-arca tersebut terutama arca batu gajah di Pasemah, adalah penggambaran perhiasan seperti kalung manik-manik, gelang kaki yang kemungkinan besar dari logam, gelang tangan, dan belati tipe Dongson yang disarungkan pada pinggang. Kadang-kadang di bagian pundak terdapat kain penutup punggung yang dinamakan “ponco”.  Dengan penggambaran manusia yang dinamis pada arca megalitik Pasemah dapat dilihat status sosial manusia yang diarcakan oleh pemahat.

Menurut studi analogi etnografi di daerah Nias dan Sumba tokoh-tokoh yang disegani di daerah tersebut karena kemampuan mereka dalam melindungi masyarakatnya diarcakan dalam bentuk batu pada saat mereka masih hidup dan memegang kendali kepemimpinan atas masyarakatnya Mereka dipahatkan dengan pakaian kebesaran yang masih lengkap dengan belati dan simbol kesaktian berupa ‘Kalung Kalabubu” yang menjadi tanda bahwa ia pernah mengayau (memotong leher) musuh-musuhnya.

Pahatan-pahatan yang menonjolkan keidahan duniawi tersebut tentunya tidak sesuai dengan kesepakatan masyarakat megalit pada umumnya. Karena bentuk yang berbeda itu pulalah maka arca Pasemah dapat dikatakan sebagai ihwal munculnya bentuk seni pahat yang bebas sebagai hasil dari perubahan mendadak (revolusi) dari bentuk statis ke bentuk yang dinamis dimana hal ini menunjukkan kreatifitas yang tinggi dari seniman dan pendukung masyarakat megalitik Pasemah.

Seni pahat yang berbeda itu dapat disebutkan bahwa masyarakat megalitik Pasemah mempunyai local genius yang dimana sifat-sifat keaslian budaya masyarakat Pasemah tidak kehilangan identitasnya. Dengan melihat nekara yang terdapat di arca batu gajah Pasemah dimana ada seorang pria yang menyerupai prajurit menggendong nekara diatas gajah maka dapat diambil kesimpulan awal jika masyarakat megalitik Pasemah tidak menutup diri dari kebudayaan luar, mereka menyerap kebudayaan luar yang berguna untuk kehidupan mereka tetapi tidak kehilangan identitas budaya megalitiknya.

Teori Arkeologi Ekologi

Dalam pendekatan teori arkeologi ekologi, Enviromental Possibilism model menyebutkan bahwa kebudayaan dimodifikasi oleh manusia, sehingga peran manusia terhadap kebudayaan adalah aktif. Sangat jelas bahwa kebudayaan ditentukan oleh lingkungan, namun terdapat pula peran manusia untuk mempengaruhi dan memodifikasinya.

Arca-arca di Pasemah digambarkan dalam bentuk yang dinamis karena lingkungan tempat tinggal mereka sangat mempengaruhi pola pikir mereka dalam pembuatan arca megalitik yang dinamis. Situs-situs arca megalitik tersebut tersebar di daerah dataran tinggi, di daerah puncak pegunungan, di daerah lereng dan ada yang di daerah lembah. Situs Tinggihari, Situs Tanjungsirih, Situs Gunungkaya merupakan situs yang terletak diatas bukit, sementara Situs Belumai, Situs Tanjungarau dan Situs Tegurwangi merupakan situs-situs yang terletak di lembah.

Keberadaan dari berbagai jenis satwa dalam lingkungan alam di Pasemah telah mempengaruhi hasil cipta yang berupa seni atau religi berupa arca megalitik. Lingkungan alam dengan keberadaan satwa liar seperti gajah, harimau dan ular telah menjadi acuan bagi masyarakat prasejarah Pasemah dalam membuat upacara-upacara yang mereka ciptakan dengan simbol-simbol tertentu  yang melambangkan kepercayaan atau perilaku.

Beragam bentuk tersebut tentunya erat kaitannya dengan makna-makna simbolis yang terdapat dalam arca-arca megalitik Pasemah yang dinamis tersebut. Simbol atau lambang dalam arca tersebut diharapkan dapat menjadi pelindung dari keganasan lingkungan biotik dan abiotik. Masyarakat megalitik Pasemah melakukan pendekatan melalui unsur kepercayaan agar nenek moyang mereka melindungi mereka dari gangguan yang ada di sekitar mereka.

Jika mengacu pada analisis semiotika dengan pendekatan semiotika komunikasi triadic Peirce, dapat dijelaskan bahwa simbol-simbol atau tanda tersebut mempunyai makna tertentu yaitu tanda (representamen) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari objek referensinya serta pemahaman subjek atas tanda (interpretant). Tanda dalam pandangan Peirce selalu berada dalam proses perubahan tanpa henti yang disebut proses semiosis tidak terbatas, yaitu proses penciptaan rangkaian interpretan yang tanpa akhir.

Penutup

Dengan melihat arca-arca megalitik di Pasemah dapat disimpulkan bahwa pemahat batu tersebut tentunya adalah seorang yang terampil dan menguasai seni memahat. Sebagian besar dari arca-arca megalitik di Pasemah memperlihatkan seorang lelaki yang memakai topi, bermata bulat, berhidung pesek, berdahi lebar, yang kesemua dari ciri-ciri tersebut tidak memperlihatkan masyarakat Pasemah pada masa sekarang yang merupakan manusia ras Mongoloid. Arca-arca tersebut kemungkinan besar memperlihatkan masyarakat megalitik pada masa tersebut dan yang menarik jika melihat ciri-ciri bentuk muka arca tersebut lebih condong pada tipe manusia ras Negroid yang sekarang tidak dijumpai lagi ras manusia tipe tersebut di Pasemah.

Dengan melihat arca-arca megalitik Pasemah tersebut dapat dilihat bahwa mereka yang diarcakan tentunya mempunyai status sosial yang boleh dikatakan berbeda dengan masyarakat megalitik Pasemah pada umumnya. Sebagai contoh adalah arca batu gajah, di arca tersebut digambarkan seorang pria yang mengendarai gajah dengan membawa nekara tipe Dongson dan pria tersebut memakai topi serta gelang kaki sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pria tersebut tentunya memiliki status sosial yang tinggi karena dirinya mempunyai gajah sebagai tunggangannya serta dilain pihak pria tersebut mempunyai nekara yang berasal dari tipe kebudayaan yang berbeda dari masyarakat megalitik Pasemah sendiri.

Selain itu, arca yang ditemukan di Pasemah mengacu pada bentuk pengarcaan yang bersifat dinamis yang menunjukkan pengekspresian lingkungan biotik yang mempengaruhi kebudayaan manusia dalam bentuk bukti budaya material yang mengandung tanda-tanda yang berfungsi untuk melindungi masyarakat pada masa itu dari lingkungannya dan sebagai suatu upaya dalam menaklukkan lingkungan. Sikap adaptasi dengan mengekspresikan pada bukti material berupa arca sangat dipengaruhi oleh lokal jenius masyarakat megalitik pasemah. Masyarakat megalitik Pasemah menampilkan budaya material yang sangat dinamis dengan arca-arca megalitik yang sangat unik dan berbeda dengan daerah lain di Nusantara.

Daftar Pustaka

  • Kusumawati, Ayu dan Haris Sukendar. Megalitik Bumi Pasemah Peranan Serta Fungsinya. Jakarta: Puslit Arkenas, 2003.
  • Mulia, Rumbi, “Beberapa Catatan Mengenai Arca-Arca yang disebut arca tipe Polinesia”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi Cibulan 21-25 Februari 1977. Hal 599-646, Puslit Arkenas: 1980.
  • Noth, Winfried. (1995). Handbook of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press.
  • Piliang, Yasraf Amir. (2003). Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra
  • Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka, 1993.
  • Setyawati, Edi. Pengarcaan Ganesa Masa Kediri dan Singasari, disertasi pascasarjana (Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1985).

Sumber

 

Peninggalan Arca Megalitik Pasemah

Loading...

About the Author: Kanal Pengetahuan

Kanal Pengetahuan merupakan media diseminasi (dissemination) yaitu penyebaran informasi dan pengetahuan kepada publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *